Yeah, I’m still on my way. I’m goin’ to stron’ to face all. I’ve not tried stay clear of. How much you trying to influence me, it can’t. I’m not a person who can influence, because I had knew before you knew. I’m not listening of you or not seeing at you. Because I though I must believe just in me. I don’t cares how much you talk over or infer to me. I’m still I’m. I’m still lovin’ classic although you given me other songs. I’m still lovin’ writin’, I’m still lovin’ watchin’, drawin’ and the other. I’ve not tried become like yo, Never once did. So I just speaking from my experience. Still on your way, faces all and you’II enjoy with it. I’m satya and I’m proud.
I’m a nerd and I’m not a nerd. How can? Just believe.
I’m a man who trying to makes my parent happy.
I’m a man who just trying to life in piece.
I’m a man who just trying to happy in everytime and everywhere.
And I don’t remember how many days I was there with my lovely books, comics, computer and glasses and spend my time. But it ended with joyful and that’and that I’II never forget and Go a head.
All my support and all my love to you, remember there are so many people out there goin’ thru thing like this and no matter what you’II be O.K (My Mom).
Selama ini mungkin aku berada antara sadar atau tidak sadar. Itu sebuah pernyataan yang hampir mirip dan sulit di bedakan. Aku sadar betapa aku mencintainya. Tapi aku juga sadar betapa bodohnya aku mencintainya, mungkin saja ia tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Di sisi lain terkadang aku tak sadar akan hal ini. Tapi di sisi satunya aku benar-benar sadar. Aku begitu bingung untuk menjelaskannya. Saat ini mungkin itu terlihat abstrak tapi mungkin jika aku sudah berada pada saat yang tepat mungkin dia akan mengerti, mungkin semua juga akan berubah saat aku mencoba untuk merubahnya, dan mungkin juga hanya waktu yang akan mengantarkan ke-abstrakkan ini untukku.
Terlintas aku sangat takut. Entah apa itu, aku bingung, aku mencoba untuk mencari semua jawaban yang ada. Ini begitu susah, rasanya aku tidak akan pernah mendapatkannya. Berhari-hari ini terjadi, menguras pikiranku lagi. Tentang apa yang aku harus takuti?
Hari ini bersamaan dengan Aku Masih Bersinar. Ku temukan jawabannya. Aku begitu takut menghadapi rintangan - rintangan yang akan datang. Aku begitu takut untuk hari esok, untuk bulan depan, untuk tahun depan. Aku begitu takut membayangkan kehidupan ini. Aku begitu takut untuk melakukan sesuatu lagi. Aku begitu takut jika aku tak dapat melakukan apapun. Aku begitu takut akan bayangan itu. Bayangan yang selalu menggangguku, begitu nyata, begitu jelas. Itu membuat pikiranku kacau, tidak dapat ku tompang lagi pikiran ini. Begitu berantakan.
Entahlah apakah aku harus terus begini. Jika itu benar maka hadapi saja. Jika itu salah tetap untuk hadapi untuk menjadikannya lebih baik. Aku hanya harus menjalani hidupku seperti biasa itu kuncinya. Anggap saja itu tidak ada, begitu mudah bukan?
Hidup ini begitu indah, tidak perlu di takuti, tidak perlu untuk mengurung diri. Karena sesungguhnya hidup ini adalah sebuah karunia yang begitu luar biasa.
Hari ini, esok dan seterusnya aku akan masih tetap bersinar. Aku berusaha untuk melakukan segala yang aku hadapi dengan baik walaupun itu sesekali menyakitkan. Aku berusaha untuk memelihara segala yang aku miliki dengan baik walaupun itu sangat susah. Aku berusaha untuk mencari jalan terbaik yang akan menjadi kehidupan ku di masa depan.
Satu lagi nilai kehidupan yang begitu membuatku sadar. Tersadar dari dalamnya jurang yang di penuhi dengan beribu-ribu batu tandus. Betapa lamanya aku baru tersadar, apakah selama ini aku terbius oleh indahnya dunia secara kasat mata? Terbius oleh ego ku sendiri. Terbius oleh hal-hal yang terucap dari orang lain dan belum tentu itu benar. Tapi kini, saat ini aku sedang tidak terbius, aku sadar seutuhnya, aku sadar apa yang telah terjadi, apa yang telah mengurungku selama bertahun-tahun.
Rintangan ini tidaklah begitu mudah. Terkadang aku harus menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikannya. Terkadang rintangan itu datang silih berganti tanpa member senggang waktu untukku. Dan Terkadang pula membuat putus asa, membuatku lemah, membuatku tenggelam dalam jurang lagi. Tidak untuk saat ini. Walaupun aku terbiasa dengan hal itu. Tapi tidak untuk saat ini. Dan tidak untuk seterusnya.
Matahari bersinar terang layaknya sinarku. Ia menghangatkan seluruh alam ini layaknya sinarku. Ia memberikan penerangan layaknya sinarku. Dan memberikan kehidupan layaknya sinarku.
Apakah aku akan bersinar? Itulah kata-kata yang terus ku dengungkan setiap saat. Aku tak bisa terlepas total dari kenyataan yang telah mengurungku selama bertahun-tahun. Kegelapan ini sungguh membuatku tak berdaya, begitu rentan, begitu lemah, bahkan aku tak dapat menentukan jalanku. Terkadang sinar itu datang, tapi tidak lamapun lenyap dengan cepat. Aku berusaha untuk mencarinya, berusaha untuk terus menyalakannya. Tapi aku tak mampu. Aku tak mampu untuk mempertahankan sinar itu setiap saat.
Betapa bodohnya aku, mengapa aku harus mencari sinar itu? Aku tak perlu untuk melakukan itu semua. Aku dapat membuat sinarku sendiri, aku dapat menyinari diriku sendiri dengan sinarku. Dan tentunya sinar ini akan selalu ada sisiku. Membuat sinarku sendiri itu lebih mudah dari pada mencari sinar orang lain dan mengambilnya. Lantas bagaimana aku bisa membuat sinarku? Sejujurnya sinar itu sudah ada, aku tidak perlu bantuan orang lain untuk membuat sinar ku, tidak perlu percikan sinar-sinar lainnya, ataupun harus mengambil sedikit sinar lainnya untuk menghidupkan sinarku. Sinarku sudah menyala sejak dulu. Itu tampak kecil, karena tidak pernah ku pakai atau ku lihat sebelumnya. Tapi kini, mulai saat ini, aku harus mencoba untuk memakai sinarku sendiri. Memakai sinar yang hampir saja lenyap.
Sinarku akan bersinar. Sinarku akan menerangi jalanku dan sinarku akan memusnakan kegelapan di hadapanku
Terkadang rasa lelah ini menggerogoti badanku. Capek, lelah, lapar, dan haus kadang harus ku tunda beberapa saat. Ini bukan karena aku harus menghadiri acara penting tapi untuk menyelesaikan beberapa tugas kuliahku saat ini. Ini begitu berbeda dengan tugas-tugas yang sebelumnya ku anggap mudah layaknya di SMA. Ini menyita semua pikiran dan fisikku. Aku berusaha untuk tidak membuang waktu dengan sia-sia. Itu karena ku tahu bahwa waktu itu dapat ku kendalikan dengan baik. Terkadang jika aku hanya menyelesaikan beberapa tugas dalam sehari itu membuatku tidak merasa puas, dan aku harus menyelesaikan tugas-tugas itu secepatnya, untuk berjaga-jaga jika mungkin ada tugas tambahan dalam bentuk tugas dadakan. Ya, begitulah namanya kuliah, kita harus selalu memanfaatkan waktu-waktu luang ini semaksimal mungkin.
Mulai minggu ini, mungkin tugas-tugas akan banyak diberikan karena berhubung telah di mulainya praktikum-praktikum mipa. Aku tidak mempermasalahkan tentang jalannya praktikum, tapi untuk membuat laporan praktikum itu sangat menyita banyak waktu, maklum ini adalah pertama kali aku membuat sebuah laporan praktikum. Ini lebih sulit dari pada membuat sebuah karya ilmiah menurutku. Aku tidak pernah lembur malam ataupun tidur di atas jam tidur biasaku untuk menyelesaikan tugas-tugas ini, karena kupikir jika aku tidur di atas jam tidurku biasa ini akan membuatku tampak lelah di pagi harinya, well semangat untuk kuliahpun agak menurun dan tentunya akan menghambat masuknya pelajaran-pelajaran hari itu. Jadi kuputuskan saja untuk tidak lembur. Aku harap aku akan terbiasa dengan keadaan ini secepatnya, karena itu akan lebih baik untuk menyesuaikan dengan diriku.
Subscribe to:
Posts (Atom)